Difabel Asal Bajo Merana Di Kampung Garam, Perlu Perhatian Pemerintah | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Difabel Asal Bajo Merana Di Kampung Garam, Perlu Perhatian Pemerintah


BUTUH PERHATIAN. Rusdin dan ibunya Wati La Ara saat ditemui di kediaman mereka, di Kampung Garam, Kelurahan Kota Uneng, Kabupaten Sikka, Rabu (4/12). Rusdin yang difabel dan ibunya berharap pemerintah bisa memberi perhatian kepada mereka. (FOTO: Karel Pandu/Timex)

KABAR FLOBAMORATA

Difabel Asal Bajo Merana Di Kampung Garam, Perlu Perhatian Pemerintah


MAUMERE, TIMEXKUPANG.com-Rusdin, 23, seorang difabel asal Bajo yang kini menjadi warga Kabupaten Sikka, dan tinggal di Kampung Garam, Kelurahan Kota Uneng, Kabupaten Sikka, membutuhkan perhatian pemerintah. Hidup Rusdin tampak merana karena selain hidup dalam kondisi tidak normal, ia pun hanya bisa menggantungkan hidupnya pada sang ibu, Wati La Ara yang sudah sepuh.

“Dari tahun ke tahun hidup kami tetap merana. Kami tidak punya tempat tinggal tetap, dan harus menyewa. Kami harus bertahan hidup dengan kondisi Rusdin seperti ini (Difabel, Red),” ungkap Wati saat ditemui TIMEXKUPANG.com, dikediamannya, Rabu (4/12).

Wati menuturkan, untuk mempertahankan hidup, mereka hanya bekerja sebagai pengumpul ikan dari kapal nelayan dan menjualnya ke pasar. Penghasilan yang didapat rata-rata berkisar Rp 10.000 – Rp 50.000 per hari.

Dari uang hasil jualan ikan itu, Wati membeli beras dan menyisihkan untuk membayar sewa kontrakan rumahnya senilai Rp 400.000 perbulan.

“Saya hanya bekerja sebagai nelayan di lempara milik salah seorang nelayan. Dengam kondisi yang sudah tua saya terpaksa harus berjuang untuk bertahan hidup bersama anak saya Rusdin,” ungkap Wati lirih.

Wati mengaku memiliki empat orang anak, terdiri dari tiga orang anak perempuan dan seorang anak laki-laki dengan kondisi fisik mengalami difabel. Mirisnya lagi, tiga anak perempuan dari Wati ini sudah menikah, namun diceraikan suaminya masing-masing. Saat ini ketiga anaknya itu mencari pekerjaan sendiri-sendiri untuk mempertahankan hidupnya.

“Saya punya empat anak, tiga perempuan dan satu yang kondisinya tidak normal, yakni Rusdin ini. Tiga anak perempuan pergi mencari hidupnya masing-masing untuk bertahan hidup,” kata Wati.

Seperti yang disaksikan media ini, Wati dan Rusdin yang difabel tinggal di pondokan tepi pantai pinggiran hutan Mangrov atau bakau, RT 010/RW 002, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok.

“Saya hanya berharap agar pemerintah dapat membantu meringankan beban hidup kami. Terutama terkait tempat tinggal,” harap Wati.

Salah seorang tetangga Wati, Agus mengaku Rusdin yang dalam kondisi fisik tak normal masih berjuang merangkak menggunakan kekuatan tangannya untuk keluar rumah. Walau dilarang mamanya, ia tetap berusaha untuk mandiri. Rusdin sepertinya tidak tega melihat ibundanya menderita mencari nafkah untuk menopang kehidupannya.

Melihat kondisi itu, Agus berharap ada perhatian dari pemerintah atau pemerhati lainnya agar dapat menolong meringankan beban hidup keluarga ini. (Kr5)

Facebook Comments

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top