Peringati Harbak, Dinas PUPR Matim Bangun Crossway di Kali Wae Musur Hilir | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Peringati Harbak, Dinas PUPR Matim Bangun Crossway di Kali Wae Musur Hilir


SIMBOLIS. Bupati Matim, Agas Andreas berdiri di atas escavator untuk melakukan simbolis mengeruk tanah pondasi crossway di Kali Wae Musur Hilir, Kecamatan Rana Mese, Selasa (3/12). (FOTO: Fansi Runggat/Timex)

KABAR FLOBAMORATA

Peringati Harbak, Dinas PUPR Matim Bangun Crossway di Kali Wae Musur Hilir


BORONG, TIMEXKUPANG.com-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai Timur (Matim) akhirnya menjawab harapan masyarakat di Kecamatan Rana Mase yang selama ini merindukan adanya jembatan di Kali Wae Musur Hilir. Meski tak dalam bentuk jembatan, namun Pemkab Matim mewujudkan harapan masyarakat itu dalam bentuk pembangunan crossway.

Selasa (3/12), Dinas PUPR Matim melakukan ritual adat peletakan batu pertama pembangunan crossway di titik satu Kali Wae Musur Hilir. Biaya pembangunan crossway sepanjang 50 meter itu bukan dianggarakan dari APBD. Tapi swadaya Dinas PUPR dalam rangka Hari Bakti (Harbak) PUPR ke-74 tahun.

Hadir dalam acara itu, Bupati Matim Agas Andreas, Wakil Ketua DPRD, Dami Damu, sejumlah anggota DPRD Matim, DPRD Provinsi NTT, Hans Rumat, Anggota Komisi Informasi Publik (KIP), Roman Lebdong, Ketua KIP NTT, Pius Rengka, Wakapolres Manggarai, Thobi Tamonob, Kajari Manggarai, Kapolsek Borong, dan Perwakilan dari Koramil Borong.

Hadir juga sejumlah pimpinan OPD lingkup Kabupaten Matim, Camat Rana Mese Maria Anjelina Teme, sejumlah staf PNS dan THL dinas PUPR, sejumlah kepala desa, dan  tokoh masyarakat.

Ritual itu dilakukan tokoh adat setempat, Ande Nampung. Seekor ayam jantan disembelih dan darahnya diteteskan di atas material batu dan peralatan kerja.

“Kita bangun crossway ini secara gotong royong dalam rangka hari Bakti PUPR ke-74 tahun. Untuk kerjanya, di sini kita melibatkan anggota TNI, Polisi, dan masyarakat setempat,” ungkap Kepala Dinas PUPR Matim, Yos Marto didampingi Staf Bidang Bina Teknik dan Konstruksi, Manseltus Nante, kepada media ini, Selasa (3/12).

Yos Marto menyebutkan, crossway yang dibangun itu bentanganya mencapai 50 meter. Lebar atas bangunan 7 meter dan lebar bagian bawa dasar 9 meter. Kedalaman pondasi mencapai 1,5 meter. Nantinya akan dibangun lima  gorong-gorong berukuran 1 X 1 meter. Target pekerjaan selesai dalam waktu 30 hari.

“Setelah crossway ini selesai dibangun, maka tinggal dua titik lagi yang dibangun crossway. Rencananya untuk dua titik itu kita akan alokasikan anggaran dari APBD II Matim secara swakelola. Ini artinya kita sudah mulai bangun dan menjawab tuntutan masyarakat,” kata Marto.

Yos menjelaskan, pilihan membangun crossway di Kali Wae Musur Hilir didasari pertimbangan kemampuan anggaran. “Pemerintah alami keterbatasan dana. Jika dibangun jembatan, butuh anggaran puluhan miliar. Tapi dengan crossway, anggaranya dibawah angka Rp 1 miliar untuk satu unit crossway. Jika dikerjakan secara swakelola, maka anggarannya lebih murah lagi bisa Rp 500 jutaan,” ungkap Yos Marto.

Yos mengatakan, crossway ini fungsinya sama seperti jembatan. Hanya bedanya, kalau saat banjir, air bisa meluap di atas bangunan crossway.
“Kita kerja sistem swakelola, tidak pakai sistem kontraktual karena biayanya besar. Kalau bentangan 50 meter seperti yang mau kita kerjakan ini anggaranya sekitar Rp 300-an juta. Itu juga kualitas kerjanya terjamin. Kalau kontraktual bisa memakan biara sekira Rp 700 jutaan,” kata Yos Marto.

Bupati Matim, Agas Andreas, mengatakan tahun depan lanjut bangun crossway di dua titik lainnya di sepanjang jalur Kali Wae Musur Hilir. Namun untuk dua crossway itu nanti, akan dianggarkan dari APBD dengan sistem swakelola. Pertimbangan tidak dibangun jembatan, karena keterbatasan anggaran. Dengan itu tentu akses ke wilayah sebelah Kali Wae Musur, tidak ada hambatan.

“Saya memberi apresiasi Dinas PUPR Matim, karena merayakan hari baktinya dengan berbuat nyata membangun crossway secara gotong royong. Di sini semua orang bisa sumbang. Kalau sekarang sudah mulai bangun crossway dengan gotong royong, maka tahun depan APBD II kita lanjut bangun dua titiknya. Jalan di ruas ini juga tahun depan kita intervensi,” kata Agas.

Menurutnya, konsep kedepannya, semua kali kecil di Matim, akan dibendung dan dibangun crossway. Tentu semua itu lebih hemat anggaran dan kualitas tetap yang utama. Setelah dibendung, pasti banyak manfaatnya. Bisa untuk kolam ikan dan airnya dialirkan untuk saluran irigasi. Harapanya jalur Sok-Purang Mese-Wae Musur Hilir-Nanga Lanang- Wae Care, jadi jalan strategis wilayah Selatan. (Krf3)

Facebook Comments

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top